top of page

Serangan Gabungan JNIM–FLA di Mali dan Peran Pasukan Ekspedisi “Africa Corps” Rusia

  • Writer: KSM Defensia UPN Veteran Yogyakarta
    KSM Defensia UPN Veteran Yogyakarta
  • 1 day ago
  • 4 min read

Oleh : Rezky Juniar Syaputra



Pada 25 April 2026, kelompok terafiliasi Al-Qaeda,  Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) dan kelompok separatis Tuareg, Azawad Liberation Front (FLA) melakukan serangan terkoordinasi yang menargetkan ibu kota Bamako, termasuk di sekitar Bandara Internasional Senou dan markas militer Kati, sementara kota-kota lain seperti Sévaré, Gao, Mopti, dan Kidal juga menjadi sasaran serangan. Serangan ini berhasil menewaskan Menteri Pertahanan Mali, Jenderal Sadio Camara setelah rumahnya di Kati menjadi target (Al Jazeera, 2026). Serangan ini menjadi serangan yang paling masif pasca Assimi Goïta mengambil alih kekuasaan pemerintah Mali pada tahun 2021 lalu. Situasi Mali telah lama tidak stabil pasca kudeta militer yang dipimpin oleh Assimi Goïta. Pemerintahan junta ini menuduh pasukan Barat gagal mengatasi terorisme dan pemberontakan bersenjata, sehingga secara bertahap mengusir pasukan Prancis (Operation Barkhane pada 2022), Satuan Tugas Takuba Uni Eropa, dan misi perdamaian PBB MINUSMA hingga selesai sepenuhnya pada tahun 2024. Mali  kemudian beralih sepenuhnya ke Rusia untuk dukungan keamanan dan membentuk Aliansi Negara Sahel (AES) bersama Burkina Faso serta Niger pada tahun 2023 (Ahmed, 2025). 


Dua aktor utama di balik serangan ini adalah Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) dan Azawad Liberation Front (FLA). JNIM merupakan kelompok jihadist afiliasi Al-Qaeda yang dibentuk pada 2017 melalui penggabungan beberapa faksi di Sahel, termasuk Ansar Dine dan Katiba Macina. Kelompok ini beroperasi terutama di wilayah tengah dan selatan Mali dengan tujuan mendirikan pemerintahan Islam berbasis syariat dan terus memperluas pengaruhnya. Sementara itu, FLA adalah kelompok separatis sekular Tuareg yang baru didirikan pada November 2024 sebagai kelanjutan dari koalisi sebelumnya seperti MNLA, HCUA, dan MAA. FLA menuntut kemerdekaan atau otonomi penuh bagi wilayah Azawad di utara Mali yang didominasi etnis Tuareg, dengan fokus pada isu identitas dan sumber daya. (Al Jazeera, 2026). Meskipun secara ideologi berseberangan, kedua kelompok ini berhasil berkoordinasi sementara untuk melawan musuh bersama, yaitu junta Mali yang didukung oleh pasukan Rusia. 


Pasukan Rusia yang berada di bawah satuan ekspedisi paramiliter Afrikanskiy korpus (Africa Corps) langsung terlibat dalam pertahanan Mali menghadapi serangan gabungan JNIM–FLA pada 25 April 2026. Mereka bertempur bersama pasukan Mali di sekitar Bandara Internasional Senou dan markas Kati, melakukan serangan udara serta artileri terhadap kolom penyerang, serta berhasil menghancurkan beberapa kendaraan bom bunuh diri (SVBIED) milik JNIM. Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa dalam serangan gabungan tersebut, JNIM-FLA mengerahkan sekitar 10.000-12.000 milisi dengan tujuan untuk menargetkan fasilitas strategis, seperti istana kepresidenan dan kantor-kantor pemerintahan di ibukota dan kota-kota besar (Gao, Kidal, Kati, dan Sevare). Dari serangan tersebut, sekitar 1000 milisi (Bamako: 200, Gao: 500, Kati: 300, Kidal: 200) dan 100 kendaraan di antaranya berhasil dieliminasi oleh pasukan Africa Corps Rusia beserta Angkatan Bersenjata Mali (FAMa) (Africa Corps, 2026). Upaya yang dilakukan ini, setidaknya hingga saat ini berhasil mencegah “skenario jatuhnya Bashar al-Assad di Suriah,”  terulang kembali di Mali.


Keterlibatan pasukan Rusia melalui Africa Corps bukanlah sesuatu yang baru di Mali. Satuan ini dikirim untuk menggantikan Wagner Group yang telah mundur pada Juni 2025 lalu (bne IntelliNews, 2026). Pasukan ini berada di bawah kendali langsung Kementerian Pertahanan Rusia dan mulai dikerahkan secara bertahap sejak akhir 2024 dengan kekuatan sekitar 2.000–2.500 personel pada awal 2025 (Fatimah, 2025). Alasan kehadiran mereka secara jelas ditunjukkan untuk memberikan perlindungan terhadap junta Mali di bawah Presiden Assimi Goïta yang mencari alternatif keamanan setelah mengusir pasukan Barat. Mali membutuhkan dukungan militer cepat untuk melawan pemberontakan dan gerakan terorisme, sedangkan Rusia di sisi lain melihat peluang untuk memperluas pengaruhnya di Afrika. Berbeda dengan Wagner yang lebih agresif dan brutal, Africa Corps mengadopsi pendekatan “hands-off” yang lebih fokus pada pelatihan terhadap Angkatan Bersenjata Mali, perlindungan pangkalan, jalur pasokan. dan aset strategis, dan dukungan udara daripada operasi garis depan besar-besaran (ADF, 2026). Namun, serangan yang sedang berlangsung saat ini memaksa Africa Corps untuk mengubah doktrin tersebut untuk berhadapan secara langsung melawan gabungan JNIM-FLA sekaligus menjadi baptism of fire. Meskipun memiliki peralatan yang lebih memadai dibandingkan dengan pihak musuh, terdapat kemungkinan skenario di mana Africa Corps gagal dalam mengatasi ancaman ini. Selain itu, terdapat skenario penarikan total Korps Afrika, baik karena tekanan perang di Ukraina atau karena kerugian besar yang menyebabkan mereka memutuskan untuk meninggalkan Mali. Dampak terburuk yang dapat terjadi adalah pemerintahan Mali kehilangan kendali atas ibu kota dan wilayah utara yang berpotensi memicu kekosongan keamanan dan kekacauan yang lebih parah dari masa sebelum Rusia datang dengan memberikan ruang bagi ekspansi JNIM di seluruh Sahel, melemahkan AES di Burkina Faso dan Niger, serta berpotensi menghancurkan kredibilitas dan pengaruh Rusia itu sendiri yang menjadi “alternatif Barat” bagi negara-negara di Afrika.


Daftar Referensi


ADF. (2026, March 31). Russia’s Africa Corps PMC “Hands-Off” Approach in Mali Proves Costly. Africa Defense Forum. https://adf-magazine.com/2026/03/russias-africa-corps-pmc-hands-off-approach-in-mali-proves-costly/


Africa Corps. (2026, April 26). Official statement on the situation in Mali [Post]. X. https://x.com/TheAfricaCorps/status/2048360125509869674


Ahmed, B. (2025, September 25). Mali responds to French embassy expulsions. AP News. https://apnews.com/article/mali-france-intelligence-services-diplomacy-embassy-d5540b8380dc37eb40699cbf61f66ec0


Al Jazeera. (2026a, April 26). Mali rattled by ongoing armed attacks: What to know. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/4/26/mali-rattled-by-ongoing-armed-attacks-what-to-know


Al Jazeera. (2026b, April 26). Mali’s Defence Minister Sadio Camara killed during coordinated attacks. Al Jazeera. https://www.aljazeera.com/news/2026/4/26/malis-defence-minister-sadio-camara-killed-amid-coordinated-attacks


bne IntelliNews. (2026, April 24). Russia boosts Mali military support as Africa Corps replaces Wagner. Intellinews.com. https://www.intellinews.com/russia-boosts-mali-military-support-as-africa-corps-replaces-wagner-439232/


Fatimah, M. (2025, June 7). Russia’s Wagner Group leaves Mali, Africa Corps will stay. Dw.com; Deutsche Welle. https://www.dw.com/en/russias-wagner-group-leaves-mali-africa-corps-will-stay/a-72829045


Reuters. (2026, April 25). Mali army bases hit in large-scale attacks claimed by al Qaeda-linked militants. Reuters. https://www.reuters.com/world/africa/loud-blasts-gunfire-heard-near-malis-main-military-camp-reuters-witness-says-2026-04-25/


Comments


bottom of page