top of page

Kelangkaan Air Bersih di Gaza: Dampak Konflik dalam Perspektif Environmental Security

  • Writer: KSM Defensia UPN Veteran Yogyakarta
    KSM Defensia UPN Veteran Yogyakarta
  • Apr 23
  • 3 min read

Oleh: Dimas Galih Nur Irfan



Kelangkaan air bersih Di Gaza tidak dapat terlepas dari kondisi kondisi konflik berkepanjangan yang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan masyarakat Gaza. Air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru berubah menjadi barang langka akibat dari rusaknya infrastruktur, terbatasnya sumber daya, dan hambatan dalam distribusi. Dalam perspektif Environmental Security, kondisi ini menunjukan bahwa lingkungan tidak lagi berdiri sebagai isu yang terpisah, melainkan telah menjadi bagian dari dinamika konflik itu sendiri.


Salah satu faktor utama yang menyebabkan krisi ini adalah kerusakan infrastruktur air akibat konflik bersenjata. Berbagai fasilitas penting seperti sumur, pipa distribusi, sampai instalasi desalinasi mengalami yang parah akibat dari serangan militer. bahkan , sebagian besar dari sistem air dan sanitasi tidak lagi dapat digunakan secara optimal. Data terbaru menunjukan bahwa lebih dari 80% infrastruktur air dan sanitasi Di Gaza mengalami kerusakaan, sehingga menyebabkan penurunan drastis layanan air bersih (Sarsour & Nagabhatla, 2026). Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan listrik dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan fasilitas air. akibatnya , masyarakat harus bergantung pada sumber air yang tidak aman, seperti air tanah yang sudah tercemar.


Selain faktor konflik, krisis Di Gaza juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang telah lama mengalami degradasi. Sumber utama air Gaza berasal dari akuifer yang mengalami eksploitasi berlebihan, sehingga menyebabkan intrusi air laut dan pencemaran. Air tanah yang tersedia sebagian besarnya tidak layak untuk dikonsumsi dikarenakan mengandung kadar garam dan limbah yang tinggi. Kondisi ini menunjukan adanya keterkaitan antara faktor ekologis dan tekanan manusia terhadap lingkungan. Penelitian menunjukan bahwa eksploitasi berlebih dan pencemaran mengakibatkan sebagian besar air Di Gaza menjadi tidak layak minum (Noui & Guesbaya, 2025).


Jika dilihat Lebih jauh lagi, konflik ini juga memperburuk sistem tata kelola air DI Gaza. Faktor politik seperti blockade, pembatasan akses, dan keterbatasan bantuan internasional turut memperparah kondisi yang ada. Dalam konteks ini, distribusi air tidak hanya menjadi persoalan teknis, melainkan juga berkaitan dengan struktur kekuasaan dan kebijakan. Studi yang membahas tentang ekonomi politik air Di Gaza menekankan bahwa tantangan utama dalam penyediaan air tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor politik, kelembagaan, serta konflik yang berkepanjangan (Fayad et al., 2025).


Dampak dari kelangkaan air bersih ini sangat besar terhadap kehidupan masyarakat. Terutama dalam aspek kesehatan. Keterbatasan akses terhadap air bersih meningkatkan resiko penyebaran penyakit, terutama penyakit yang ditularkan melalui air. Bahkan, akses air Di Gaza dilaporkan turun hingga dibawah 5 liter per orang serta per harinya, jauh di bawah standar minimum internasional, sehingga meningkatkan resiko wabah penyakit secara signifikan (Sarsour & Nagabhatla, 2026). Dalam situasi konflik, kondisi sanitasi yang buruk dan keterbatasan air bersih menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap wabah penyakit. Enelitaian lain juga menunjukkan bahwa terbatasnya akses terhadap air bersih selama konflik berkontribusi terhadap meningkatnya penyakit menular seperti hepatitis A (Khadoura et al., 2025).


Jika dilihat secara lebih luas, krisis air Di Gaza merupakan contoh nyata bagaimana isu lingkungan dapat berkembang menjadi ancaman keamanan manusia. Air tidak lagi sekedar kebutuhan dasar, melainkan telah menjadi faktor yang menentukan kelangsungan hidup masyarakat. Dalam kerangka human security, kondisi ini mencerminkan ancaman langsung terhadap kesehatan, kesejahteraan, serta kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur, namun juga memerlukan solusi politik yang mampu mengakhiri konflik dan memperbaiki tata kelola sumber daya.


Dengan demikian, kelangkaan air bersih Di Gaza menunjukan bahwa konflik dan lingkungan memiliki hubungan yang sangat erat. Krisi ini bukan hanya persoalan kekurangan sumber daya, tetapi juga hasil dari interaksi kompleks antara faktor ekologis, politik, dan sosial. Dalam perspektif Environmental Security, kasus Di Gaza dapat dipahami sebagai contoh nyata bagaimana degradasi lingkungan dan konflik dapat saling memperkuat, sehingga menciptakan krisi kemanusiaan yang mendalam


Daftar Referensi


Fayad, M., Barrington, D. J., & Zaqout, M. (2025). The political economy of water and sanitation in Palestine’s Gaza Strip: A scoping review.


Khadoura, K. J., Abu Naseer, M., Al-taramsi, A., & Al-faleet, F. (2025). Prevalence and associated factors of hepatitis A virus infection in Gaza Strip during the 2023–2025 conflict. 


Noui, A., & Guesbaya, Z. (2025). Water resource crisis in the Gaza Strip: The impact of groundwater and surface water challenges before and after the October 2023 conflict.


Sarsour, A., & Nagabhatla, N. (2026). Breaking point in the Gaza Strip: The “cracking” of the WASH-health nexus since October 2023 (UNU-CRIS Working Paper No. 03/2026). United Nations University.




Comments


bottom of page